BIOLOGY-UMM

Assalamualaikum...

hai all..thank udah mauh mampir nich...
^_^ smuga bermanfaat

Minggu, 31 Januari 2010

DASAR-DASAR ILMU GIZI

JENIS-JENIS DAN UPAYA PERBAIKAN PENYAKIT GIZI SALAH


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di berbagai bagian dunia, masalah gizi sudah mulai menyentuh perasaan orang. Penemuaan riset yang mengejutkan mengenai akibat kekurangan gizi terhadap angka kematian yang terus meningkat, tentang pertumbuhan tubuh, produktivitas dan perkembangan mental telah menimbulkan kekhawatiran. Anak-anak dibelakang wajah berpandangan hampa yang selalu tampak di Negara-negara miskin, mungkin merupakan anak-anak yang terbelakang (Berg, 1986).

Gizi menjadi suatu masalah dan tindakan perbaikan gizi lebih dapat dijalankan, karena banyak negara yang sudah terlepas dari tekanan persediaan makanan yang tidak cukup. Bagi yang tidak mengenal hal ini, gizi salah atau gizi kurang adalah hal yang tidak tampak sama sekali. Tidak sama halnya dengan kelaparan, yang menarik perhatian nasional maupun internasional. Erosi kesehatan yang berkepanjangan dapat sampai kepada bentuk wabah, dan gizi kurang telah dinyatakan sebagai masalah utama kesehatan dunia yang berkaitan dengan lebih banyak kematian dan penyakit dibandingkan dengan kelaparan. Tak banyak sangkalan bahwa “gizi kurang atau gizi salahlah” faktor yang paling utama dalam kematian anak-anak di Negara-negara yang sedang berkembang.

Menurut penelitian, WHO menyatakan bahwa di Negara-negara berpendapatan rendah, rata-rata 3% anak balita menderita gizi buruk karena kekurangan kalori-protein (gizi salah tahap ketiga atau “berat”), gizi salah tahap kedua “sedang” (kekurangan kalori), dan gizi salah tahap pertama “ringan” (kekurangan protein).

Winarno, 1992. Masalah gizi di Indonesia sudah ada sejak dahulu dan telah mulai mendapat perhatian sejak tahun 1889, salah satu pokok kesehatan di Negara-negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Oleh karena itu, usaha-usaha perbaikan gizi masyarakat di Negara ini merupakan salah satu usaha kesehatan yang menonjol, yang menjadi bagian dari program pembangunan nasional. Walaupun telah banyak dilakukan penyuluhan gizi dalam berbagai bentuk, namun pengertian gizi salah atau penyakit gangguan gizi yang sering diasosiasikan dengan penyakit gizi kurang. Hal ini disebabkan akibat dari pencerminan kejadian penyakit kurang gizi yang cukup banyak jumlahnya dalam masyarakat di Negara yang sedang berkembang.

Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan nutrisi atau disebut gizi lebih (overnutrition) dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition).

Kedudukan gizi (nutrition status) seseorang atau suatu golongan penduduk (population), ialah suatu tingkat kesehatan yang merupakan akibat “intake” dan pengguna (utilization) semua nutrient yang terdapat dalam makanan sehari-hari. Di Negara-negara yang teknologinya terbelakang, kekurangan gizi merupakan penyebab utama kematian di masa kanak-kanak. Dalam masyarakat industri, kurang gizi merupakan penyebab sindrom malabsorbsi dan gangguan fungsi ginjal yang menahun (Budiyanto, 2004).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Malang.

b. Untuk mengetahui serta membahas tentang klasifikasi dan jenis-jenis dari penyakit gizi salah.

c. Mengetahui hubungan gizi salah dalam pembangunan

d. Untuk mengetahui upaya mengurangi masalah penyakit gizi salah.

1.3 Rumusan Masalah

a. Apa saja yang termasuk klasifikasi penyakit gizi salah?

b. Apa saja yang termasuk dalam jenis penyakit gizi salah?

c. Bagaimana hubungan penyakit gizi salah dalam pembangunan?

d. Upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam mengurangi masalah gizi salah?


PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Penyakit Gizi Salah

Penyakit-penyakit kekurangan gizi yang paling rentan adalah kelompok bayi dan anak balita. Oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita (bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut dan masing-masing ahli mempunyai argumentasi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut. (Anonymous, 2008)

Berdasarkan data statistik kesehatan Departemen Kesehatan RI tahun 2005 dari 241.973.879 penduduk Indonesia, enam persen atau sekitar 14,5 juta orang menderita gizi buruk. Penderita gizi buruk pada umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun (balita). Depkes menunjukkan hasil bahwa penderita gizi kurang ditemukan di 72% kabupaten di Indonesia, dan gizi buruk merupakan salah satu dari tiga tingkatan status gizi selain gizi lebih dan gizi baik.

Menurut Budiyanto (2004), Penyakit gizi salah dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu:

A. Penyakit-penyakit bawaan, yaitu kesalahan susunan genetik yang menyebabkan kelainan dalam sintesa enzim, yang dimulai dari kesalahan genetik, metabolisme (dengan perantara enzim), sehingga menyebabkan terjadinya penyakit. Penyakit ini disebut dengan ”inbornerrors of metabolism”. Penyakit gizi akibat kesalahan genetik dapat menyebabkan:

Ø Enzim tertentu menurun sehingga mengakibatkan penderita akan mengalami intoleransi glukosa, intoleransi fruktosa, dll.

Ø Penyakit gangguan metabolisme.

Ø Penyakit degeneratif (penurunan).

Contoh: dalam kasus penyakit diabetes militus yang diakibatkan karena gangguan metabolisme glukosa yang rusak.

B. Penyakit-penyakit berdasarkan ketidak seimbangan antara ”intake” dan ”requirement” dan zat-zat gizi.

Dilihat dari intake dan requirement ada dua kemungkinan, yaitu:

1. Penyakit gizi lebih

Contoh: Obesitas yang berkembang menjadi diabetes militus, jantung koroner, dll.

2. Penyakit gizi kurang

· Penyakit devisiensi gizi yang komplek.

Contoh: kwarshiorkor (kekurangan kalori dan protein), marasmus (kekurangan kalori), busung lapar (kekurangan protein).

3. Penyakit-penyakit keracunan makanan

2.2 Beberapa Jenis Penyakit

Yang tergolong dalam gizi salah (malnutrisi) ini terdapat dua golongan yaitu kelebihan gizi (over nutrition) dan kurang gizi (under nutrition). Ada beberapa jenis penyakit, yaitu:

A. Obesitas

Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelebihan lemak yang berada didalam tubuh. Secara klasik obesitas telah diidentifikasikan sebagai bobot yang besar lebih dari 20% bobot yang layak bagi pria dan wanita untuk tinggi tertentu. Berdasarkan definisi obesitas pada wanita adalah kandungan lemak dalam tubuh yang lebih dari 30%, sedang pada pria batas bawahnya lebih rendah yaitu antara 20-25%. Adanya perbedaan ini disebabkan karena pertimbangan lemak perbobot tubuh total pada wanita lebih besar dari pada pria. Berdasarkan morfologi jaringan adiposa yang dijadikan tumpuan, maka obesitas diidentifikasikan sebagai hipertrofik pada usia dewasa, yang dicirikan oleh pembesaran ukuran sel lemak atau hiperplastik, hipertrofik yang dicirikan oleh bertambahnya sel-sel lemak maupun oleh pembesaran ukuran sel. Sedangkan, obesitas hiperplastik-hipertrofik berkorelasi dengan munculnya obesitas pada masa kanak-kanak atau remaja.

Obesitas adalah peningkatan kegiatan lipoprotein lipase (LPL) dan peningkatan sel lemak sepanjang minggu pertama kehidupan. LPL adalah enzim yang menghidrolisis bagian trigliserida dari khilomikro yang beredar dan lipoprotein berkepadatan sangat rendah (very low density lipoprotein = VLDL) menjadi asam lemak bebas (free fatty acid = FFA) yang kemudian diangkut melintasi sel, diesterkan kembali, dan disimpan sebagai lipid di dalam sel.

Menurut Anonymous (2008), pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat karena harus membawa kelebihan berat badan. Oleh sebab itu pada umumnya lebih cepat gerah, lelah, dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari penyakit obesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit kardiovaskuler, hipertensi, dan diabetes mellitus. Faktor-faktor lingkungan utama yang dianggap berperan terhadap munculnya obesitas manusia meskipun secara tidak langsung, yaitu:

Ø Makan berlebihan sejak dini.

Ø Makan tanpa dibatasi.

Ø Faktor sosial ekonomi dan budaya.

Hal tersebut telah di terangkan dalam Firman Allah Q.S Al-A’raaf (31):

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Suatu ciri obesitas yang telah disepakati oleh para peneliti bahwa adanya kecenderungan obesitas akan tetap saja obesitas, atau jika dapat diturunkan bobot tubuhnya dengan pengobatan maka setelah pengobatan selisih bobot tubuhnya akan meningkat kembali. Pengobatan obesitas dapat dilakukan beberapa cara, yaitu:

v Diet dengan cara puasa, khususnya diet rendah kalori, dimana terdapat pada makanan yang banyak mengandung serat (tahan lama dalam lambung). Ini dapat mengikat lemak atau kolesterol, dan waktu berada diusus rendah yang mengakibatkan rasa kenyang yang lama.

v Latihan fisik, hal ini sangat efektif untuk membantu menurunkan berat badan jika didampingi dengan mengatur jumlah pemasukan kalori.

v Diet dapat dilakukan dengan mengubah nafsu makan dengan menginduksikan suatu keadaan metabolik yang merangsang anoreksia yang disertai dengan metabolisasi lipid.

v Pembedahan.

v Farmakelogik.

B. Kekurangan Kalori-Protein

Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energy. Defisiensi atau defisit energi dan protein. KKP sering ditemui pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun, dimana pada usia tersebut zat gizi tinggi, sehingga apabila zat gizi tersebut tidak tercapai atau tidak terpenuhi maka tubuh akan mengunakan cadangan zat makanan yang ada, dan hal itu dapat membuat cadangan makanan akan habis dan akan menyebabkan kelainan pada jaringan, sehingga menimbulkan kelainan ana akan terjadi perubahan, dan menimbulkan kelainan anatomis. Ada tiga jenis KKP, yaitu:

1) Kwarshiorkor, adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi. Kasus ini sering dijumpai di daerah miskin, persediaan makanan yang terbatas, dan tingkat pendidikan yang rendah. Penyakit ini menjadi masalah di negara-negara miskin dan berkembang di Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Asia Selatan. Di negara maju sepeti Amerika Serikat kwarshiorkor merupakan kasus yang langka.

Tanda-tanda yang sering dijumpai pada penderita Kwarshiorkor yaitu :

· Bengkak pada tangan, kaki, atau anggota badan yang lain.

· Berat badan kurang atau tidak sesuai dengan umur.

· Wajahnya sembah dan otot-ototnya mengendur.

Adanya pembengkakan maka penurunan berat badan tidak terjadi, tetapi pertambahan tinggi terhambat, sedangkan pembengkakan biasanya terjadi jika serum albumin selalu rendah. Hal ini ditandai dengan rambut tipis, kulit kusam, wajah pucat akibat anemia, berak encer, pembesaran pada hati, kulit pecah dan mengelupas, dan gejala kekurang vitamin A.

2) Marasmus, penyakit ini disebabkan karena kurang kalori yang berlebihan, sehingga membuat cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Penyakit ini banyak terjadi pada bayi dibawah usia 1 tahun, yang disebabkan karena tidak mendapatkan ASI atau penggantinya.

Tanda-tanda yang sering dijumpai pada penderita marasmus, yaitu:

· Tubuhnya sangat kurus, hanya tinggal tulang terbungkus oleh kulit bahkan berat badan sangat dibawah rata-rata.

· Kulit keriput, pantat kosong, paha kosong, tangan kurus, dan iga nampak jelas.

· Wajah seperti orang tua.

3) Marasmus-Kwarshiorkor, adalah dua jenis gambaran penyakit gizi yang sangat penting. Dimana ada sejumlah anak yang menunjukkan keadaan mirip dengan marasmus yang di tandai dengan adanya odema, menurunnya kadar protein (Albumin dalam darah), kulit mengering dan kusam serta otot menjadi lemah.

C. Busung Lapar

Busung lapar dikenal juga dengan istilah Honger Oedeem (HO), adalah kwarshiorkor pada orang dewasa. Busung lapar disebabkan karena kekurangan makanan, terutama protein dalam waktu yang lama secara berturut-turut. Pada busung lapar terjadi penimbunan cairan dirongga perut yang menyebabkan perut menjadi busung (oleh karenanya disebut busung lapar).

Tanda-tanda yang dapat dilihat antara lain, yaitu:

· Badan kurus

· Kaki dan tangan bengkak

· Kulit kering dan kusam

· Sekitar mata bengkak dan apatis

· Rambut menjadi merah kusam dan mudah dicabut

Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut adalah faktor sosial maupun dari segi faktor ekonomi.

Q.S. Al Anbyaa (8)

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal”.

D. Defisiensi Vitamin A

Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A didalam tubuh. Fungsi vitamin A mencakup 3 fungsi yakni fungsi dalam proses melihat, dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam proses melihat yang disebut xerophthalmia.

Penanggulangan defisiensi kekurangan vitamin A yang penting disini ditujukan kepada pencegahan kebutaan pada anak balita. Program penanggulangan xerophthalmia ditujukan pada anak balita dengan pemberian vitamin A secara cuma-cuma melalui puskesmas dan / atau posyandu. Disamping itu program pencegahan dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi masyarakat tentang makanan-makanan sebagai sumber vitamin.

Kelainan yang dapat timbul apabila kekurangn vitamin A:

· Buta senja sebagai akibat dari gangguan regenerasi rhodopsin.

· Xerophthalmiah, terjadi perubahan pada jaringan yang menjadi keras dan kering, bercak putih berbuih bentuk segitiga pada selaput mata (bercak bitot).

Hipervitaminosis A yaitu intake vitamin A secara ”acute”, hipervitamiosis A terjadi pada anak-anak. Tanda-tanda gejala keracunan vitamin A yang berlebihan:

· Kehilangan nafsu makan.

· Sakit kepala.

· Muntah-muntah.

· Kelainan pada kulit.

· Sakit pada tulang.

· Penghambatan pertumbuhan.

E. Defisiensi Thiamine (Vitamin B1)

Vitamin ini adalah zat berupa kristal, tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen dan belerang, mudah larut dalam air dan sedikit melarut dalam alkohol. Vitamin ini selain disebut thiamin juga disebut aneurin atau anti beri-beri. Tanda-tanda kekurangan vitamin B1 pada bayi berumur 3 bulan:

· Berat badan tetap, gelisah, flu, dan diare, perubahan detak jantung secara mendadak dan dapat menimbulkan kematian.

· Gerak reflek lutut kurang, meninggi dan tidak ada sama sekali.

· Kalau kulit ditekan tidak cepat kembali.

Makanan yang kaya akan thiamine seperti: beras tumbuk, beras pecah kulit, kacang-kacangan, daging, telur, susu, dan sayuran dapat mencegah penyakit beri-beri yang merupakan penyakit akibat kekurangan thiamine. Pengobatan penyakit beri-beri dapat dilakukan dengan perbaikan susunan menu yang dikonsumsi setiap hari. Adapun beberapa fungsi thiamin (vitamin B1) adalah:

1. sebagai metabolisme karbohidrat.

2. untuk mempergaruhi keseimbangan air didalam tubuh.

3. untuk mempergaruhi penyerapan zat lemak dalam usus.

Sumber vitamin B1 (thiamin) adalah hati, ginjal, jantung, otak, susu, kuning telur, kulit ari padi dan gandum, wortel dan ragi.


Tabel. Kandungan Thiamin pada Beberapa Makanan

Bahan makanan

Mg thiamin per 100 g

Jagung

Tepung gandum pecah kulit

Roti tawar

Kentang

Daging kambing

Daging sapi

Susu

1,8

0,26

0,18

0,11

0,09

0,05

0,04

F. Defisiensi Vitamin B2 (Riboflavin)

Riboflavin mempunyai sifat larut dalam air dan tahan panas didalam larutan netral atau asam, akan tetapi kalau dipanaskan dalam larutan basa ataupun kalau terkena sinar matahari maka vitamin tersebut akan rusak. Fungsi riboflavin yaitu:

a. Berguna untuk pemindahan rangsangan sinar ke syaraf mata.

b. Berperan dalam berbagai enzim dalam proses oksidasi dalam sel- sel, dalam proses oksidasi jaringan (terutama di bagian luar dari tubuh, seperti: kulit, mata dan syaraf perifer).

Tanda-tanda kekurangan vitamin B2:

· Mata tak dapat melihat dengan baik, pothopobia, perasaan panas dan gatal, vaskularisasi pada kornea, bendungan pembuluh pada sklera.

· Pada kulit dermatitis, gemuk pada lipatan nasolabia dan scrotum, pecah pada sudut mulut (stomatis angularis), luka pada bibir (cheilosis), radang pada ujung dan bagian samping lidah dengan warna khas merah jambu dan licin.

Kebutuhan normal orang dewasa akan vitamin B2 yaitu 1.6 mg perhari, namun kebutuhan tersebutsecara berlebihan tepatnya tergantung pada umur, berat badan, konsumsi energi dan protein, kebutuhan vutamin ini bagi anak-anak, wanita hamil dan menyusui tentunya lebih tinggi daripada biasanya. Untuk pencegahan bahan makanan yang kaya akan riboflavin harus selalu ada dalam menu setiap hari.

Tabel . Kandungan Riboflavin pada Beberapa Makanan

Bahan makanan

Mg riboflavin per 100gram

Khamir bir yang dikeringkan

Keju

Telur

Daging sapi

Susu

Kubis

Kentang

Roti tawar

3,68

0,50

0,47

0,20

0,19

0,05

0,04

0,03

G. Defisiensi Vitamin B12

Vitamin B12 berguna untuk memberi stimulasi pada jaringan hemopoietik. Hasil penelitian menyatakan bahwa sianokobalamin mengandung suatu kelompok sianida dan terikat pada kobalat pusat B12 berbentuk kristal berwarna merah tua dan dapat larut dalam air dan alkohol, stabil dalam bentuk larutan. Vitamin B12 sumbernya yaitu hati, fungsinya dalam tubuh yaitu:

Ø Sebagai koenzim yang penting dalam metabolisme asam amino.

Ø Berperan dalam pembentukan eritrosit.

Ø Diperkirakan berperan dalam sintesis asam nukleat.

Kekurangan vitamin B12 dapat menimbulkan penyakit anemia dengan tanda-tanda sebagai berikut:

· Lidah halus dan mengkilat, perubahan saraf dan anemia makrositik.

· Sel darah merah berkurang jumlahnya dan membesar.

Anemia terjadi karena defisiensi asam falat banyak tedapat pada ibu hamil. Kekurangan vitamin B12 juga dapat mengganggu pertumbuhan pada anak dan sistem saraf sehingga muncul gejala kebodohan, gampang marah, atau tersinggung. Ada sejumlah faktor penyebab defisiensi vitamin B12, misalnya karena asupan vitamin lewat makanan kurang, dan jumlah yang ditelan sedikit, atau kurang memenuhi standar yang ditetapkan. Ini bisa terjadi pada mereka yang "alergi" makanan hewani, yang notabene merupakan sumber kobalamin (nama lain vitamin B12).

H. Defisiensi Vitamin C (Asam Askorbat)

Vitamin C merupakan vitamin yang paling labil, peka terhadap alkali dan oksidasi, terutama pada ion-ion besi dan tembaga yang bekerja sebagai katalisator. Bahan-bahan makanan yang mengandung vitamin C adalah hati, ginjal, sayur-sayuran, dan buah-buahan segar terutama jeruk yang dapat mengandung zat-zat sitrin dan rutrin (zat-zat ini yang membantu dalam menghentikan pendarah).

Sifat-sifat vitamin C, antara lain:

· Larut dalam air.

· Mudah rusak jika dalam suhu yang tinggi.

· Mudah rusak jika terkena cahaya dan logam.

Fungsi vitamin C, yaitu:

a. Membantu mempertahankan imunitas tubuh.

b. Menjaga fungsi otak.

c. Menjaga struktur fungsi kolagen.

d. Sebagai pencahar.

Tanda-tanda kekurangan vitamin C:

· Kelainan pada gusi, meradang, dan mudah berdarah.

· Nyeri pada kaki.

· Lemas, pucat.

· Berat badan turun.

· Bila ada luka penyembuhannya sangat lambat.

Pengobatan dilakukan dengan memberikan vitamin C (asam askorbat) dalam jumlah cukup (100-200 mg/hari) untuk beberapa lama.

I. Defisiensi Vitamin D

Vitamin merupakan campuran dari berbagai ikatan kimia yang tergolong sterol. Dengan daya artirasitik. Sekarang dikenal 16 macam, dengan dua buah yang terkenal yaitu vitamin D2 dan vitamin D3. Ada beberapa fungsi, yaitu:

a. Untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang dan gigi.

b. Untuk absorbsi kalsium dari usus.

c. Untuk pengambilan kalsium dan fosfor oleh tulang dan gigi.

Tanda-tanda kekurangan vitamin D, yaitu:

· terjadi penyakit rakhitis, umumnya terdapat pada anak-anak (tulang menjadi bengkok).

· Gigi keluar terhambat.

· Panggul menjadi kecil dan sempit.

Penyebab penyakit rakhitis adalah susunan makanan yang murah, yamg terutama terdiri dari segi makanan sereal tanpa vitamin D dan kuranganya sinar matahari didaerah kota yang penuh asap. Cara pengobatan dan pencegahannya yaitu menjemur anak-anak dibawah sinar matahari.

Tanda-tanda kelebihan vitamin D, yaitu:

a. Pengendapan kalsium pada jaringan lunak dalam tubuh.

b. Keracunan.

J. Defisiensi Vitamin E (Tocopherol)

Vitamin E dikenal sebagai vitamin anti kemandulan dan merupakan zat anti oksidasi yang melindungi vitamin yang mudah teroksidasi. Vitamin dapat mengatur metabolisme anti inti sel. Vitamin E sering digunakan untuk melawan kemandulan dan mencegah keguguran pada wanita. Pemberian vitamin E dengan vitamin A dapat memberikan pengaruh penambahan efisiensi vitamin A didalam badan. Beberapa sumber vitamin E, yaitu:

a. Gandum.

b. Minyak nabati.

c. Telur dan susu.

Fungsi vitamin E, yaitu:

· Mencegah keguguran atau pendarahan pada ibu hamil.

· Diperlukan pada saat sel sedang membelah.

Kekurangan vitamin ini jarang berlaku tetapi mengakibatkan kelahiran tidak cukup bulan, bayi tidak cukup berat atau anak-anak yang sistem tubuhnya tidak menyerap bahan berlemak dengan sempurna, serta menyebabkan kecacatan sistem saraf.

K. Defisiensi Vitamin K

Vitamin K diperlukan dalam pembentukan prothombin untuk pembekuan darah, dan vitamin K banyak terdapat dalam sayuran hijau dan berbagai pangan lain. Kekurangan vitamin K menyebabkan hambatan pada pembekuan darah, sehingga perlukaan-perlukaan akan mengeluarkan darah yang lebih banyak dari biasanya.

L. Defisiensi Ca (Kalsium)

Jumlah kalsium dalam tubuh orang dewasa kira-kira 1,5-2,2 % dari berat badan, dan kalsium banyak terdapat pada susu, telur, dan sayuran. Gejala kekurangan kalsium pada anak kecil tidak dapat dihat jelas. Penyakit rakhitis dan penghambatan pada pertumbuhan dapat terjadi apabila kekurangan kalsium, kekurangan phosphor dan vitamin D. Vitamin D dan C mempengaruhi penyerapan Ca (kalsium) dari rongga usus. Lemak yang berlebihan dalam makanan dan oksalat yang terdapat banyak dalam sayuran serta buah-buahan, semua ini mempengaruhi penyerapan Ca.

Tanda-tanda kekurangan Ca:

· Terjadi penyakit rakhitis.

· Pertumbuhan lambat.

· Mengalami sembelit.

· Terkadang mengalami sakit tulang.

· Berkurangnya selera makan.

Fungsi Ca, yaitu:

1. Pembentukan tulang dan gigi.

2. Pada proses fisiologik dan biokimiawi didalam tubuh (pada pembekuan darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi impul-impul syaraf, memelihara dan dan meningkatkan fungsi membran sel, serta mengaktifkan reaksi enzim dan pengeluaran hormon).

M. Defisiensi Iodium

Kekurangan garam iodium menyebabkan penyakit gondok. Kekurangan disebabkan karena kadar iodium air minum, tanah, susu dan bahan makan lainnya sangat rendah. Beberapa akibat yang disebabkan oleh defisiensi iodium:

· Pembesaran kelenjaran tiroid (gondok), fungsi kelenjar gondok dengan pertumbuhan sangat erat sekali.

· Kretin (kekurangan iodium berlanjut).

· Myxedema.

· Kematian ibu dan anak.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya defisiensi iodium, diantaranya:

1. Masukan iodium yang rendah.

2. Penghambatan metabolisme iodium oleh senyawa goitrogen.

Goitrogen adalah senyawa yang dapat menghambat sintesa hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.

3. Faktor genetik

Penyakit gondok dapat juga diturunkan, jadi ada penderita gondok karena keturunan.

Upaya pencegahan defisiensi iodium dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

· Fortifikasi

a) Fortifikasi iodium dalam garam dapur.

b) Fortifikasi iodium pada coklat.

c) Fortifikasi iodium pada air minum.

d) Fortifikasi iodium pada roti.

e) Fortifikasi iodium pada gula kelapa.

· Penyuntikan lipiodol

Lipiodol adalah larutan iodium dalam minyak dengan kadar 40% yang diberikan dalam bentuk suntikan. Sasaran penyuntikan lipiodol adalah wanita berusia 0-45 tahun dan pria berusia 0-20 tahun.

N. Defisiensi Niacin (Asam Nikotinat)

Jaringan tubuh hewan dan manusia dapat mengubah asam amino menjadi trypthophane menjadi niacin, dengan bantuan riboflavin dan pyridoksin. Kekurangan trypthophane atau niacin dapat mengakibatkan penyakit pelagra (kulit kasar).

Tanda-tandanya dikenal dengan “4D”, yaitu:

1. Diare.

2. Dermatitis.

3. Dimensia (kemunduran pada kesehatan orang tua).

4. Death (mati).

Pengobatan penyakit pelagra dimulai dengan memperbaiki makanan sehari-hari ditambahkan pengobatan vitamin-vitamin B-komplek.

O. Defisiensi Zat Besi

Zat besi merupakan bagian dari hemoglobin yang diperlukan oleh tubuh untuk pengaturan oksigen kejaringan. Kekurangan zat besi dalam tubuh mengakibatkan kekurangan darah (anemia nutritional). Penyakit ini dapat dijumpai pada anak yang sedang tumbuh, gadis remaja, dan wanita, terutama wanita yang sedang mengandung dan menyusui.

Sumber zat besi, antara lain:

· Hati.

· Tiram kerang.

· Daging tanpa lemak.

· Ayam/itik dan ikan.

· Kacang dan sayur yang dikeringkan.

Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan:

a. Keletihan, lemah badan.

b. Berdebar, sakit dada.

c. Sukar bernafas.

d. Anemia.

P. Penyakit-Penyakit Keracunan Makanan

Keracunan makanan ialah penyakit yang terjadi setelah memakan makanan yang tercemar dengan kuman atau bahan kimia. Terdapat banyak kesalahan makan atau keracunan makanan yang terjadi dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Misalnya:

1. Keracun HCN (Asam Biru), disebabkan oleh asam biru (HCN). Misalnya pada singkong yang mengandung suatu glukosarida oleh pengaruh enzim akan menghasilkan HCN. Gejala keracunan singkong ialah mual dan muntah, sesak nafas dan koma.

2. Aflatoxin, merupakan racun yang dihasilkan oleh jamur aspergillus falfus yang dapat mencemari kacang tanah. Toxin ini ada 2 jenis, yaitu:

a. Toxitas akut, menimbulkan perdangan hati dan terjadi pada dosis tinggi dalam waktu pendek.

b. Toxitas kronis, bersifat conansgenik yang menimbulkan carcionoma hati (pada dosis rendah dalam waktu panjang).

Tanda-tanda Kerancunan Makanan:

- lemas dan muntah.

- mulas dan sakit perut.

- Diare.

- kadangkala demam dan kedinginan (menggigil).

- Sesak napas.

- Koma.

2.3 PENYEBAB PENYAKIT GIZI SALAH

Penyebab penyakit gizi salah antara lain:

a. Pengetahuan tentang gizi yang sangat minim.

b. Kurangnya penyuluhan tentang gizi oleh pemerintah.

c. Faktor ekonomi, seperti yang terjadi di Indonesia sebagian besar gizi salah terjadi pada masyarakat menengah kebawah. Banyak kasus di Indonesia ditemukan mal nutrisi kompleks (defisiensi atau over nutrisi lebih dari satu jenis bahan gizi spesifik). Misalnya: Penderita Obesitas yang juga menderita DM, Hipertensi, Asam Urat, Hiperkolesterolemia, Hiperlipidemia, Aterosklerosis, dll.

2.4 Hubungan Gizi Salah dalam Pembangunan

Hal ini dimulai dengan asumsi bahwa manusia adalah kunci pembangunan, bahwa kualitas eksistensi manusia adalah ukuran yang sesungguhnya bagi pembangunan, kecuali gizi dalam makanan kemungkinan merupakan faktor penentu utama. Kesejahteraan bangsa mungkin dapat ditinggikan dengan gizi yang lebih baik, kesejahteraan itu sebagian besar juga tergantung pada faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan lainnya.

Gizi bukanlah merupakan inti pembangunan, tetapi merupakan bagian yang memerlukan perhatian yang lebih banyak. Hubungan gizi salah dengan pembangunan yaitu dengan mempertimbangkan dampak gizi salah terhadap seseorang yang diproyeksikan pada kerangka nasional (termasuk antara hubungan gizi dan pertumbuhan penduduk). Meskipun implikasi gizi salah telah jelas, pendekatan yang terbaik untuk memecahkan masalahnya tetap tidak jelas. Para perencana pembangunan yang telah menunjukkan perhatian kepada hal ini umumnya berpendapat bahwa gizi yang lebih baik adalah hasil langsung “otomatis” perkembangan pembangunan ekonomi dan seluruh usaha yang dikerahkan untuk meningkatkan pendapatan. Mereka menunjukkan kepada titik berat yang telah diberikan sebagai usaha peningkatan produksi pertanian dan menekankan atau memperbesar persediaan makanan merupakan jalan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan gizi (Berg, 1986).

2.5 Upaya Perbaikan Gizi

Upaya untuk mengurangi dampak dari penyakit gizi sesuai Departemen Kesehatan dalam penyuluhan gizi untuk menghadapi masalah penyakit gizi salah yang terjadi sekarang ini bisa dilakukan dengan berbagai upaya, seperti:

Ø Memakan aneka ragam makanan untuk memenuhi kecukupan energi

Ø upaya pemerintah dalam mengatasi penyakit gizi salah dilakukan dengan penyuluhan terhadap daerah yang diindikasikan adanya penyakit tersebut.

Ø Makanlah sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan enegi (50 %)

Ø Batasi konsumsi lemak dan minyak saampai ­­­­­¼ dari kebutuhan energi (25%)

Ø Gunakan garam beriodium

Ø Makanlah makanan yang mengandung zat besi

Ø Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 4 bulan

Ø Minumlah air bersih dan cukup jumlahnya

Ø Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur

Ø Hindari minuman beralkohol

Ø Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan

Ø Makanlah makanan 4 sehat 5 sempurna 6 halalan dan thoyiban.

Q.S. Al maa’idah (88)

Artinya:

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

HADIST:

1. Kami ini suatu kaum yang tidak makan kecuali lapar dan akan berhenti makan sebelum kenyang.

2. Orang kafir itu makan untuk tujuh perutnya sedangkan orang mukmin makan untuk satu perutnya.

3. Isilah perutmu dengan 1/3 makanan, 1/3 minuman, dan 1/3 udara.

n ALLOHUMA BARIKLANA FIMAA RAZAQTANA WA QNA ADZABANNAR

Ya Allah berkahilah rejeki yang engkau berikan dan hindarkanlah saya dari siksa api neraka

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

  • Dalam pengklasifikasian penyakit gizi salah ada 3 tingkatan, yaitu: penyakit-penyakit bawaan, penyakit-penyakit berdasarkan ketidak seimbangan antara “intake” dan “requirement” dan zat-zat gizi, serta penyakit-penyakit keracunan makanan.
  • Beberapa jenis penyakit gizi salah, antara lain: Obesitas, KKP, busung lapar, defisiensi vitamin (A, B1, B2, B12, C, D, E, K), defisiensi (Ca, Iodium, Niacin, Fe), dan penyakit-penyakit keracunan (HCN, Aflatoxin).
  • Penyebab adanya penyakit gizi salah yaitu kurangnya pengetahuan tentang gizi, kurangnya penyuluhan gizi dimasyarakat, dan faktor ekonomi.
  • Hubungan gizi salah dengan pembangunan yaitu dengan mempertimbangkan dampak gizi salah terhadap seseorang yang diproyeksikan pada kerangka nasional (termasuk antara hubungan gizi dan pertumbuhan penduduk).
  • Upaya dalam menanggulangi penyakit gizi salah dapat dilakukan dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna 6 halalan dan thoyiban, melakukan penyuluhan ke masyarakat, dan adanya campur tangan pemerintah dalam hal gizi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2008. WASPADAI ANAK-ANAK DARI KWASHIORKOR http://health.allrefer.com/health/kwashiorkor-info.htlm. diakses tanggal 17 April 2009.

Berg, alan. 1986. Peranan Gizi Dalam Pembangunan Nasional. CV. Rajawali. Jakarta.

Budiyanto, MAK. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

DepKes R.I.1991. Informasi tentang Peranan Pembangunan Kesehatan dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.

Winarno, F, G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar